Pusaka Wahyu - CHAPTER 9 (FINAL): "LEDAKAN TERAKHIR DAN KELAHIRAN BARU"
Cahaya putih itu bukan cahaya.
Ia adalah ketiadaan—ruang di mana waktu, suara, dan napas tercerabut akarnya. Di dalam kekosongan ini, Arya dan bayangannya saling terikat, darah dan logam mereka menyatu seperti dua sungai yang bertabrakan.
"Kau bodoh," desis bayangan itu, suaranya pecah menjadi ribuan gema. "Kita bisa jadi dewa—"
"Aku cuma ingin jadi manusia," potong Arya.
Tali kulit di pergelangan mereka berpijar semakin terang, membakar kulit dan logam hingga meleleh. Dari dalam pelelehan itu, kumbang-kumbang emas bermunculan—ribuan, mungkin jutaan—menggerogoti setiap inchi tubuh mereka.
Di luar, di dunia yang sekarat:
Kala Majapahit bergetar. Wajah logam raksasanya menjerit dalam bahasa yang sudah terlupakan saat retakan muncul di seluruh tubuhnya. Dari retakan itu, kumbang-kumbang emas menyembur seperti meteor, menghujani bumi.
Di mana mereka jatuh:
Sungai kristal mencair kembali menjadi air.
Manusia logam menjerit saat kulit asli mereka tumbuh kembali.
Atlantis Nusantara, yang setengah muncul dari Gerbang Langit, runtuh menjadi debu bercahaya.
——
Di Dalam Kekosongan
Arya dan bayangannya kini tinggal kepala—dua wajah identik yang saling berhadapan.
"Masih ada cara," bisik bayangan itu, matanya ruby redup. "Putar waktu—"
"Tidak," Arya tersenyum. Di belakangnya, pohon-pohon kecil mulai tumbuh dari kekosongan—pohon dengan daun emas dan akar baja. "Kita mulai dari sini."
Dengan sisa tenaga, ia menghempaskan kepala bayangannya ke retakan di langit kaca.
Braaaak!
Segalanya runtuh.
——
Epilog: DUA ABAD KEMUDIAN
Gunung Lawu, 1656 Masehi
Sri Kandi, tabib muda dari tanah Sunda, menyentuh prasasti aneh di mulut gua. Ukirannya menunjukkan:
Pemuda bermata biru dengan kaki pincang.
Pohon dengan akar logam dan daun emas.
Kumbang raksasa terbang ke matahari.
"Konon, di sini dulu seorang pahlawan mengorbankan diri untuk menghentikan dewa besi," bisiknya pada muridnya.
Tiba-tiba, angin berbisik.
Di dalam gua, kumbang emas kecil merangkak keluar dari celah batu. Ia hinggap di tangan Sri, lalu terbang ke arah matahari—diikuti oleh ribuan kumbang lainnya yang muncul dari tanah.
Di kejauhan, di lereng gunung yang dulunya adalah reruntuhan Sinargading, anak-anak desa tertawa sambil mengejar kumbang-kumbang itu. Salah satu dari mereka, lelaki kecil bermata biru pucat, mengangkat tangan.
Sehelai daun emas jatuh ke telapaknya.
——
Posting Komentar untuk "Pusaka Wahyu - CHAPTER 9 (FINAL): "LEDAKAN TERAKHIR DAN KELAHIRAN BARU""
You are welcome to share your ideas with us in comments!