Pusaka Wahyu - CHAPTER 8: "WAJAH YANG TERBELENGGU"
Angin panas berbau belerang menerpa wajah Arya saat ia berdiri menghadapi dirinya sendiri yang terbelenggu. Bayangan itu tersenyum—senyum yang terlalu lebar, terlalu banyak gigi, seperti logam yang direnggangkan hingga retak.
"Kau pikir ini kebetulan?" suaranya bergema, menggetarkan kristal-kristal di langit-langit palsu. "Setiap 500 tahun, Sang Hyang Sanggargawa mengirim seorang pengganti... dan setiap kali, kami menolak."
Tali kulit di tangan Arya kini berpendar seperti kawat berpijar. Ia merasakan ingatan yang bukan miliknya mengalir melalui benda itu:
Seorang prajurit Majapahit dengan mata biru sama, mati tergantung di pohon ini.
Gadis Bali berkalung bunga kamboja, tubuhnya hancur oleh akar mekanik.
Puluhan lagi—semua dengan garis keturunan yang sama, semua gagal.
"Mereka terlalu lemah," bisik bayangan Arya, rantai cahaya di pergelangannya berderak. "Tapi kau... kau sudah menyatu dengan Getah Dewa. Kau bisa menjadi wadah yang sempurna."
Sang Hyang Sanggargawa menarik lengan Arya. "Dengarkan aku. Jika kau bebaskan dia—"
"Dia akan menyelesaikan apa yang Kala Majapahit mulai," sela bayangan itu. "Membersihkan dunia. Membuatnya sesuai untuk Atlantis kembali."
Di luar, melalui retakan di langit kaca, Arya melihat sinar ungu Kala Majapahit mulai mengubah tanah Jawa:
Sungai-sungai membeku menjadi kristal.
Burung-burung jatuh, bulu mereka berganti menjadi sisik logam.
Manusia yang lari menjerit—kulit mereka transparan, tulang-tulangnya berubah menjadi tembaga.
——
Di Dalam Diri Arya
Getah Dewa bergolak. Garis-garis emas di kulitnya kini membentuk peta—peta yang ia kenal:
Gunung Lawu sebagai pusat.
Tujuh titik di sekelilingnya: Candi Sukuh, Telaga Sarangan, Gua Gong...
Sebuah garis menghubungkannya menjadi bentuk kumbang.
"Jalur Pelarian," bisik Sang Hyang Sanggargawa. "Jika kau tak mau menggantikannya... hancurkan semuanya."
Bayangan Arya tiba-tiba berteriak, rantainya bergetar liar. "JANGAN! Kau tidak mengerti—"
Tapi Arya sudah memutuskan.
Dengan tali kulit berpijar, ia mengikat pergelangan tangan bayangan itu ke tangannya sendiri.
"Bukan jadi pengganti," ia bergumam. "Tapi bergabung."
Dunia meledak dalam cahaya putih.
——
Posting Komentar untuk "Pusaka Wahyu - CHAPTER 8: "WAJAH YANG TERBELENGGU""
You are welcome to share your ideas with us in comments!