Pusaka Wahyu - CHAPTER 6: "PILIHAN DI TEPI KEHANCURAN"
Air kolam menyembur ke langit-langit gua seperti naga yang terbangun. Arya terlempar ke dinding batu, tulang rusuknya retak saat menghantam ukiran kuno bergambar matahari bergigi. Darahnya—yang kini lebih banyak emas daripada merah—mengalir ke relief itu, membuat garis-garisnya menyala merah tua.
"Kau tidak punya waktu!" Suara Sang Hyang Sanggargawa semakin lemah, terpecah-pecah seperti radio rusak. "Gerakkan tanganmu ke—"
Suaranya hilang diterpa deru mesin raksasa yang tiba-tuma hidup dari bawah tanah. Seluruh gua bergetar, batu-batu besar berjatuhan. Di tengah kekacauan itu, Arya melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku—
Batu Wahyu Sanggargawa di altar mulai meleleh.
Cairan emasnya merayap ke lantai, membentuk jalur-jalur menuju lima tengkorak emas. Saat menyentuh tengkorak pertama—
Braak!
Tengkorak itu terbakar dengan api biru, mengeluarkan asap yang membentuk wajah Arya sendiri di udara.
"Satu nyawa untuk membuka Gerbang," terdengar suara metallic dari dalam asap.
Sesepuh Agung—atau Panglima Tejamantri—tiba-tiba berhenti berteriak. Matanya yang ruby menyala lebih terang saat menatap Arya.
"Dia memilih untuk tidak memilih," bisiknya pada Patri Kala. "Biarkan Kala Majapahit yang menentukan."
Dari dalam sumur tua, tentakel logam raksasa meledak keluar—tapi kali ini, ujungnya bukan tangan manusia.
Itu adalah wajah.
Wajah raksasa dari logam yang sudah berkarat, dengan:
Dua mata hampa sebesar roda pedati
Mulut bergerigi seperti pintu perangkap
Tulisan kuno di dahinya: "Yang Terakhir Harus Mati"
Wajah itu menganga, mengeluarkan suara yang bukan berasal dari dunia ini—
"ATLANTIS BANGKIT."
——
Di Dalam Pikiran Arya
Sang Hyang Sanggargawa berdiri di tepi danau mimpi, wajah ibunya sekarang jelas terbentuk.
"Akar Pohon Waktu sudah terluka," ujarnya sambil menunjuk ke bawah. Di dalam air danau, Arya melihat ribuan wajah—leluhurnya—terjebak dalam gelembung-gelembung. "Jika kau pilih menghancurkan Gerbang, mereka akan hilang selamanya."
Tapi ada gambar lain:
Kota-kota Nusantara terbakar. Lautan mendidih. Manusia berubah menjadi batu.
"Jika kau buka Gerbang, Kala Majapahit akan menyelesaikan misinya—membersihkan dunia untuk kelahiran baru."
Arya menggigit bibir sampai berdarah. Harus ada cara ketiga.
Dari sakunya yang sobek, ia mengeluarkan tali kulit pemberian ayahnya—satu-satunya benda dari dunia luar yang masih melekat padanya.
"Apa yang terjadi jika aku masuk ke dalam Pohon Waktu?"
Sang Hyang Sanggargawa tersenyum untuk pertama kalinya.
"Kau akan menjadi yang pertama mati... atau yang terakhir hidup."
——
Posting Komentar untuk "Pusaka Wahyu - CHAPTER 6: "PILIHAN DI TEPI KEHANCURAN""
You are welcome to share your ideas with us in comments!