Pusaka Wahyu - CHAPTER 7: "MASUK KE POHON WAKTU"

Tali kulit di tangan Arya terasa panas, berpijar seperti besi yang ditempa. Darah dan keringatnya meresap ke serat-seratnya, mengubah benda usang itu menjadi sesuatu yang lain—urat hidup yang berdenyut dengan energi purba.

"Lekatkan ke akarnya!" teriak Sang Hyang Sanggargawa, suaranya kini terdengar dari segala arah sekaligus, bergema di dalam tulang Arya.

Di dunia nyata, tubuh Arya yang tak bernyawa tergantung di tepi kolam, dijaga oleh tentara logam yang baru bangkit. Tapi di dalam ruang mimpi ini, ia melompat—

Ke dalam danau.


 

Airnya tidak basah. Tidak dingin. Rasanya seperti terjun ke dalam lautan api yang membeku. Ribuan wajah leluhur berteriak saat ia melewati gelembung-gelembung mereka, tangan-teman transparan mencoba menariknya masuk.

"Jangan lihat! Tetaplah pada tujuan!"

Arya memejamkan mata, merasakan tarikan gravitasi aneh yang menariknya semakin dalam—

Dan tiba-tiba, ia berdiri di tempat yang bukan tempat.

——

Di Dalam Pohon Waktu

Langit di sini terbuat dari kaca yang retak, memperlihatkan pemandangan perang dahsyat di baliknya—kapal-kapal logam bertempur di awan, makhluk bersayap api menjatuhkan kota-kota kristal.

Di bawah kaki Arya, akar-akar mekanik sebesar sungai berdenyut seperti nadi, membawa cairan emas ke segala penjuru. Di tengahnya, ada bentuk manusia yang terikat oleh rantai-rantai cahaya:

  • Tubuhnya setengah logam, setengah daging

  • Wajahnya... adalah wajah Arya sendiri yang lebih tua

  • Di dadanya tertanam Batu Wahyu Sanggargawa—versi yang lebih besar, lebih gelap

"Akhirnya," kata manusia-logam itu dengan suara yang membuat seluruh Pohon Waktu bergetar. "Sang Pengganti datang."

Sang Hyang Sanggargawa muncul di samping Arya, wajahnya pucat.

"Inilah yang tidak kusebutkan... Kala Majapahit bukan mesin. Ini adalah penjara untuk Dirimu Yang Lain.*

——

Dunia Luar - Kehancuran Total

Di perguruan Sinargading yang sudah hancur, Kala Majapahit telah bangkit sepenuhnya.

Bentuk aslinya adalah kota bergerak dari logam dan tulang:

  • Menara-menaranya adalah tulang paha raksasa yang ditumpuk

  • Jalan-jalannya adalah tangan-tangan logam yang merayap

  • Di pusatnya, wajah raksasa itu kini memiliki tubuh—dengan Batu Wahyu Sanggargawa tertanam di dada

Sesepuh Agung dan Patri Kala bersujud di depannya, tapi mereka tidak menyadari—kulit mereka mulai mengelupas, berubah menjadi logam.

"Persembahan diterima," gemuruh Kala Majapahit. "Proses pemurnian dimulai."

Dari mulutnya yang bergerigi, cahaya ungu menyembur ke langit—membuka lubang ke suatu tempat yang bukan seharusnya ada.

——

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Posting Komentar untuk "Pusaka Wahyu - CHAPTER 7: "MASUK KE POHON WAKTU""