Pusaka Wahyu - CHAPTER 5: "AKAR POHON WAKTU"
Kolam air hitam itu mendidih.
Gelembung-gelembung besar meletus di permukaan, mengeluarkan uap berwarna tembaga yang berbau seperti besi terbakar dan garam laut. Arya merasakan Getah Dewa di nadinya berdenyut liar—seolah menari mengikuti irama cahaya keemasan yang semakin terang dari dasar kolam.
"Jatuhkan dirimu," desis suara perempuan itu, sekarang jelas berasal dari dalam air.
Tidak pikir panjang, Arya menggerakkan tangan yang masih bebas—menyambar akar besi yang melilit pergelangan kakinya. Kulit telapak tangannya terkoyak, darah bercampur emas menetes, tapi ia terus menggosokkan cairan itu ke logam berkarat sampai—
Kreeeeng!
Akar besi itu menjerit.
Ia terlepas seperti ular kepanasan, dan Arya terjun bebas ke kolam.
Dingin.
Lebih dingin dari kuburan musim salju. Air hitam menyusup ke hidung, mulut, pori-porinya—tapi anehnya, ia bisa bernapas. Di depan matanya terbentang pohon raksasa dengan batang dari kristal dan akar-akar logam hidup yang bergerak seperti ular.
"Selamat datang di Sanggargawa, Keturunan Terakhir."
Perempuan itu ada di sana—terbungkus akar-akar emas, tubuhnya setengah transparan seperti hantu. Rambutnya yang panjang berwarna tembaga mengambang di air, wajahnya...
Arya tersentak.
Wajah itu persis seperti ibunya.
——
Dunia Atas, Ruang Ritual
Sesepuh Agung mendesis marah ketika kolam tiba-tiba memancarkan sinar keemasan.
"Gali sumurnya!" pekiknya pada para Malaikat Tanpa Wajah. "Jangan biarkan dia menyentuh Akar!"
Tapi sudah terlambat.
Dinding gua mulai bergetar, retakan-retakan muncul di lantai batu. Dari dalam retakan itu, tangan-tangan logam bermunculan—puluhan, ratusan, mungkin ribuan—menarik diri mereka keluar dari perut bumi.
Tentara Kala Majapahit yang tertidur.
——
Dalam Kolam
Perempuan itu—Sang Hyang Sanggargawa—mengulurkan tangan.
"Aku adalah ingatan terakhir Pohon Waktu," bisiknya sambil menyentuh dahi Arya. "Mereka yang kau lihat sebagai musuh, dulunya adalah penjaga."
Gambar-gambar baru membanjiri pikiran Arya:
Sesepuh Agung dahulu adalah Panglima Tejamantri, manusia pilihan yang ditugaskan menjaga Gerbang Langit.
Para Malaikat Tanpa Wajah adalah Dewan Pengawas yang mencegah teknologi Atlantis disalahgunakan.
Sesuatu yang lebih tua dari mereka semua telah membangkitkan Kala Majapahit—mesin perang yang seharusnya tetap terpendam.
"Kau harus memilih," kata Sang Hyang Sanggargawa, tubuhnya mulai memudar. "Menghancurkan Gerbang Langit selamanya, atau membuka kembali jalan ke Atlantis?"
Di atas mereka, langit-langit gua mulai runtuh.
——
Posting Komentar untuk "Pusaka Wahyu - CHAPTER 5: "AKAR POHON WAKTU""
You are welcome to share your ideas with us in comments!