Pusaka Wahyu - CHAPTER 3: "SISIK TEMBAGA DAN PENGKHIANATAN"
Perguruan Sinargading yang megah kini menjadi panggung kobaran api. Asap hitam mengepul tinggi, menari-nari di antara jerit kesakitan dan gemerisik senjata. Arya berdiri di tengah kekacauan, kujang aneh di tangannya masih berdenyut seperti jantung hidup. Darah pertama yang diminumnya telah mengubah bilah itu—ukiran Sunda kuno di pangkalnya kini bersinar merah, seolah menuntut lebih.
"Mereka datang untukmu," bisik suara perempuan dalam kepalanya.
Di menara utara, Sesepuh Agung dan pemimpin bajak laut—lelaki bertanduk logam yang disebut Patri Kala—sedang bertukar sesuatu. Sebuah bungkusan kecil dibuka, memancarkan cahaya keemasan yang sama dengan Batu Wahyu Sanggargawa.
Kreek!
Tiba-tiba, tanah di bawah Arya berguncang. Dari dalam sumur tua di tengah perguruan, sesuatu yang besar bergerak. Batu-batu penyangga runtuh, dan dari dalam kegelapan itu—
Seutas tentakel logam menyembul, berkilauan di bawah sinar bulan seperti ular tembaga raksasa. Ujungnya berbentuk seperti tangan manusia dengan lima jari runcing, masing-masing sepanjang pedang.
"Kala Majapahit..." seseorang berbisik ketakutan.
Tapi Arya tidak punya waktu untuk terpana.
Dua murid Sinargading—yang tadi pagi masih mengejeknya—kini berlari ke arahnya dengan panik. "Daka! Tolong kami—"
Sreeet!
Tentakel logam itu menyambar dari belakang, menembus dada mereka seperti tusuk sate. Darah bahkan tidak sempat menetes—tubuh korban langsung mengering, kulit dan dagingnya mengerut seperti buah yang dihisap isinya, hanya menyisakan tulang terbungkus kulit.
"Lari!" teriak suara dalam kepalanya.
Arya berbalik, tapi sudah terlambat.
Sesepuh Agung kini berdiri di depannya, wajahnya tidak lagi menyembunyikan wujud asli. Kulit manusia mengelupas seperti kertas basah, memperlihatkan wajah bawahnya—logam tembaga berkarat dengan mata ruby merah dan mulut bergerigi.
"Akhirnya ketemu, Keturunan Atlantis," suaranya berderit seperti roda pedati yang tidak diminyaki.
Tangan logamnya mencengkram leher Arya.
——
Dalam Kegelapan
Arya terbangun di ruangan bawah tanah yang dipenuhi tengkorak bertulisan emas. Tubuhnya terikat pada tiang batu, Batu Wahyu di dadanya berdenyut tidak teratur. Di depannya, Sesepuh—atau apapun itu—sedang memimpin upacara dengan bahasa yang tidak ia kenal.
Di lantai, tergambar diagram lingkaran dengan simbol-simbol aneh:
Sayap kumbang
Matahari bergigi
Pohon dengan akar mekanik
"Kau hanya wadah," kata makhluk itu sambil mengasah pisau ritual dari tulang. "Darahmu adalah kunci terakhir untuk membangunkan Kapal Induk di bawah Gunung Lawu."
Di sudut ruangan, Patri Kala si bajak laut sedang membuka peti berisi puluhan Batu Wahyu lainnya. Tapi yang membuat ngeri—setiap batu itu berdenyut dalam irama berbeda, seperti jantung-jantung terpisah yang menunggu disatukan.
"Jangan lihat ke atas," suara perempuan itu memperingatkan.
Tapi Arya tidak bisa menahan diri.
Di langit-langit gua, tergantung ratusan tubuh dalam keadaan setengah hidup—murid-murid Sinargading yang hilang selama ini. Tali pusar logam menghubungkan mereka ke sesuatu yang besar di kegelapan...
——
Posting Komentar untuk "Pusaka Wahyu - CHAPTER 3: "SISIK TEMBAGA DAN PENGKHIANATAN""
You are welcome to share your ideas with us in comments!