Pusaka Wahyu -CHAPTER 2: "DARAH EMAS DAN LIDAH API"

Perguruan Sinargading, Fajar Menyingsing

Luka di rusuk Arya masih mengucur darah—jejak tendangan Surya tadi pagi—tapi anehnya, ia tidak merasakan sakit. Darahnya sendiri mengalir lebih lambat dari biasanya, butiran-butiran merahnya bercampur kilauan emas mikroskopis yang berkerlap seperti serbuk tembaga tertiup angin.

"Kau pakai ilmu hitam, Daka?" Surya menjerit sambil menahan kakinya yang bengkok, wajahnya pucat seperti mayat.

Arya tidak sempat menjawab.

Tiga murid senior sudah mengepungnya, keris terhunus. Yang pertama menusuk—

Refleks.

Tubuhnya bergerak sendiri, membelokkan serangan dengan gerakan Jurus Angin Menderu yang seharusnya mustahil ia kuasai. Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Setiap gerakan lawannya terlihat lambat, seolah waktu berdetak lebih panjang. Ia bisa melihat otot-otot penyerangnya mengencang sebelum mereka bergerak, bisa mencium bau keringat ketakutan mereka. Dan ketika tangannya yang kini dihiasi urat-urat emas itu menampar dada murid pertama—

Braakk!

Tulang rusuk itu remuk dengan suara seperti tempurung kelapa diinjak gajah.

——

Balai Utama Sinargading

Sesepuh Agung duduk bersila di atas podium kayu jati, janggut putihnya terjuntai hingga ke ikat pinggang emas. Matanya—yang tadi masih merah—kini kembali hitam legam seperti biasa.

"Kau telah melukai lima muridku hari ini, Daka," suaranya mendayu, tapi Arya bisa merasakan sesuatu yang salah. Bau aneh menguar dari tubuh sesepuh itu, seperti daging busuk yang dibungkus wewangian cendana.

Arya menunduk, tapi bukan karena hormat. Garis-garis emas di kulitnya berdenyut panas, seolah memperingatkan sesuatu.

"Maafkan hamba, Sesepuh. Mereka yang menyerang lebih dulu—"

"Bisu!"

Tangan keriput Sesepuh Agung menampar meja, meninggalkan jejak cakar seperti bekas torekan harimau. Arya menahan nafas. Itu bukan tangan manusia.

"Kau membawa sesuatu yang bukan milikmu," bisik Sesepuh, tiba-tiba sudah berada tepat di hadapannya, padahal Arya tidak melihatnya bergerak. Hidung bengkok itu mengendus-endus leher Arya. "Bau Atl—"

Braaaang!

Teriakan tanda bahaya dari menara pengawal memekakkan telinga.

"Bajak Laut Bugis!" teriak seorang murid yang berlari masuk dengan luka di bahu. "Mereka membakar dermaga!"

Sesepuh Agung mendesis, tapi Arya melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku—lidah sesepuh itu bercabang dua, merah menyala seperti api, dan untuk sesaat... wajahnya berubah, kulitnya retak-retak memperlihatkan sisik berwarna tembaga di bawahnya.

——

Perguruan Terbakar

Asap hitam mengepul dari gudang senjata ketika Arya berlari melewati pekarangan. Di kejauhan, puluhan perahu Bugis dengan layar merah sudah merapat. Yang paling menakutkan adalah sosok di barisan depan—lelaki bertubuh seperti banteng dengan tanduk logam mencuat dari dahinya.

"Patri Kala!" teriak seorang murid sebelum tubuhnya terbelah dua oleh golok raksasa.

Arya ingin lari, tapi tiba-tiba—

"Jalur barat daya, 20 langkah, ada senjatamu," suara perempuan dalam kepalanya berbisik.

Tanpa berpikir, ia menyambar sebuah kujang yang tergeletak di dekat sumur. Senjata Sunda itu langsung berubah di tangannya—bilahnya memanjang, bergerigi seperti tulang belakang ular, dan... bernyawa.


 

Ketika bajak laut pertama menerjang, kujang itu bergerak sendiri, menusuk tepat di leher lawan. Darah yang menyembur menguap sebelum menyentuh tanah, berubah menjadi kabut merah.

Di menara pengawal, Arya melihat Sesepuh Agung sedang berhadapan dengan pemimpin bajak laut. Tapi yang membuatnya tercekat—

Mereka saling menyapa seperti kenalan lama.

——

Hajriah Fajar is a multi-talented Indonesian artist, writer, and content creator. Born in December 1987, she grew up in a village in Bogor Regency, where she developed a deep appreciation for the arts. Her unconventional journey includes working as a professional parking attendant before pursuing higher education. Fajar holds a Bachelor's degree in Computer Science from Nusamandiri University, demonstrating her ability to excel in both creative and technical fields. She is currently working as an IT professional at a private hospital in Jakarta while actively sharing her thoughts, artwork, and experiences on various social media platforms.

Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Posting Komentar untuk "Pusaka Wahyu -CHAPTER 2: "DARAH EMAS DAN LIDAH API""